Rabu, 08 April 2015

Memento Mori: Ingatlah suatu kelak kamu akan mati juga

Das J├╝ngste Gericht; Hans Memling (15th Century)

“Imagine there’s no heaven / It’s easy if you try / No hell below us / Above us only sky / Imagine all the people / Living for today…
Imagine there’s no countries / It isn’t hard to do / Nothing to kill or die for / And no religion too / Imagine all the people / Living life in peace…”
- John Lennon, Imagine
“Agama adalah sebuah karya untuk menindas kehidupan, asal-mula dari dunia yang tidak mempunyai hati dan keadaan dimana jiwa tidak memiliki rasa iba. Agama merupakan candu dari masyarakat".
- Karl Marx

Kamis, 05 Februari 2015

Audensi Umum Paus Benediktus XVI : Katekese Mengenai Doa Kristen bagian III: "Doa Abraham"

Benediktus XVI
 Audensi Umum 
Lapangan St. Peter
Rabu, 18 Mei 2011





Saudara/i Terkasih,
Dalam serial dua katakese saya, saya merenungkan kepada kalian mengenai doa yang merupakan fenomena universal dimana - walaupun memiliki bentuk yang berbeda-beda - hadir disetiap adat istiadat setiap jaman.

Hari ini saya ingin memulai berbicara tentang doa yang terkandung didalam Kitab Suci, yang dimana akan membimbing kita jauh kedalam tentang dialog mengenai Perjanjian antara Allah dan manusia, dimana selalu hidup dalam sejarah keselamatan dan dapat terus dihitung didalamnya, sehingga membahwa kita kepada Firman itu sendiri yaitu Yesus Kristus.

Cara ini akan merenungkan kita kepada beberapa poin yang penting dalam teks dan beberapa tokoh penting baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita akan mulai dengan Bapa Abraham, bapa dari segala umat yang percaya (bdk. Rom 4:11-12, 16-17), dia memberikan sebuah contoh doa yang merupakan doa bantuan kepada kota Sodom dan Gomorah.

Dan saya juga ingin menanyakan kepada kalian apa saja keuntungan yang akan didapat ketika kita melakukan perjalanan permenungan terhadap serial katekese ini ketika kita dituntun oleh Kitab Suci, dimana saya berharap keuntungan-keuntungan ini akan kalian bawa didalam rumah kalian, dan tentu saja saya berharap dalam minggu-minggu ini, kalian hening sejenak membaca Kitab Suci dan bermeditasi dan berdoa bersama-Nya, untuk mengetahui bagaimana takjubnya sejarah yang diukir antara hubungan manusia dan Allah yang terkandung didalam Kitab Suci, bagaimana Allah yang mau berkomunikasi dengan kita, manusia, dan bagaimana kita manusia menganggapi-Nya, dengan berdoa.

Rabu, 04 Februari 2015

Audensi Umum Paus Benediktus XVI : Katekese Mengenai Doa Kristen bagian II: "Doa Adalah Tanggapan Keinginan Manusia akan Allah"

Benediktus XVI
 Audensi Umum 
Lapangan St. Peter
Rabu, 11 Mei 2011



Saudara/i Terkasih, 
Hari ini saya ingin melanjutkan permenungan saya mengenai bagaimana cara berdoa dan bagaimana doa itu merupakan bagian dari agama dan kemanusiaan dan juga termasuk bagian dari sejarah kemanusiaan.

Kita hidup didalam dunia dengan terpampang jelas dengan berbagai sekularisme. Allah seakan-akan telah hilang dalam pandangan beberapa orang dan telah menjadi realita bahwa sebagian orang ini sudah tidak lagi peduli akan masalah ini. Tetapi pada saat yang bersamaan kita melihat bahwa telah timbul juga gerakan-gerakan beberapa orang untuk mencari kebutuhan mereka akan kehidupan beragama, kembali menggali bagaimana pentingnya Allah dalam kehidupan manusia, sebuah kebutuhan akan spiritualitas, sebuah pencarian yang melewati batas materialistik dari kehidupan manusia dengan tulus.

Kita melihat beberapa lembaran sejarah dimana mereka, mulai pada abad Pencerahan, memprediksi akan gagalnya dan hilangnya agama-agama yang mereka kira membatasi pikiran-pikiran akal budi manusia, dimana mereka ini mengira bahwa dengan menjauhkan manusia dari Iman, maka akal budi akan dibebaskan dari bayang-bayang dogma agama dan menghilangkan akan segala macam "kesakralan", dan memulihkan kemanusiaan kepada kebebasan, martabat, dan kemandirian manusia dari Allah. Pengalaman lain dari lembaran sejarah masa lalu, adalah tragedi dua Perang Dunia, dimana mengganggu perkembangan kemandirian akal budi, manusia seakan-akan dihilangkan perasaan mereka bahwa Allah itu tidak ada, lembaran-lembaran sejarah ini seakan menjanjikan sebuah tujuan yang sukses untuk menghilangkan Allah.

Audensi Umum Paus Benediktus XVI : Katekese Mengenai Doa Kristen bagian I: "Beberapa Contoh Doa Jaman Dahulu"

Benediktus XVI
 Audensi Umum
Lapangan Basilika St.Peter 
Rabu, 4 Mei 2011




Doa Orang Kristen

Saudara/i Terkasih,
Hari ini saya ingin memulai serial katekese baru. Setelah serial katekese mengenai Bapa-Bapa Gereja, Para Ahli Theologi dan perempuan hebat dari Abad Pertengahan, saya ingin memulai memilih sebuah topik yang mungkin menyenengkan hati kalian semua: yaitu tema mengenai doa, terlebih khususnya, Doa Kristen, yang dimana, Yesus ajarkan dan dimana Gereja sampai saat ini meneruskan-Nya. Adalah sebuah fakta bahwa didalam Yesus, manusia dapat bertemu dengan Allah secara mendalam dan intim seperti relasi antara Bapa dan Anak. Bersama dengan murid-murid pertama-Nya, mari kita dengan rendah hati dan percaya kepada-Nya sambil berseru: "Tuhan, ajarilah kami cara berdoa" (bdk Luk 11:1).

Dalam serial katakese ini, dengan bantuan Kitab Suci, tradisi agung dari para Bapa Gereja, Para Pengajar mengenai spiritual dan Liturgi, mari kita belajar untuk hidup antara relasi kita dengan Tuhan, dengan lebih sering seperti layaknya kita berada didalam "sekolah doa"

Kita semua mengerti, bahwa, doa itu didapatkan secara bebas. Dibutuhkan sebuah cara bagaimana berdoa dengan benar, seperti sebuah seni yang selalu diperbaharui, bahkan mereka yang telah ahli dalam kehidupan spiritual selalu merasakan sebuah kecontohan dari Yesus, bagaimana cara berdoa yang otentik dan sebenarnya dari-Nya. Kita menerima cara pertama dari contoh Tuhan sendiri. Didalam Injil menjelaskan kepada kita bagaimana Yesus dalam keintiman-Nya dan kedekatan-Nya melakukan pembicaraan dengan Bapa: ini secara jelas menggambarkan sebuah persekutuan dimana Dia yang diutus kedunia bukan kehendak-Nya seorang saja tetapi melakukan kehendak Bapa-Nya yang mengutus-Nya untuk menyelamatkan manusia.

Pada serial Katakese pertama ini, sebagai pembukaan saya ingin memberikan beberapa contoh doa dari budaya-budaya jaman kuno dan lama, untuk memberikan sebuah contoh kepada kalian semua bahwa dari dahulu dan disemua tempat, manusia selalu melakukan komunikasi kepada Allah. 

Selasa, 03 Februari 2015

Audensi Umum Paus Benediktus XVI : Katekese Dalam Liturgi Kudus bagian II

Benediktus XVI
 Audensi Umum 
Rabu, 3 Oktober 2012


Saudara/i Terkasih,
Minggu lalu dalam minggu Katekese, Saya memulai mengajari tentang sesuatu dari banyak sumber dalam kehidupan Doa orang Kristen, yaitu: Liturgi Ilahi, dimana, seperti yang dikatakan dalam Katekismus Gereja Katolik merupakan sebuah doa yang "Berpartisipasi dalam Doa Kristus yang ditujukan kepada Bapa dalam persatuan dalam Roh Kudus. Karena dalam Liturgi, adalah sumber dan tujuan dari semua Doa Kristen " (bdk. 1073). Sekarang saya mau kalian untuk bertanya dalam diri kalian masing-masing: dalam kehidupan saya sehari-hari, apakah saya menyediakan waktu yang cukup untuk sebuah doa, dan diatas semuanya itu dimana saya tempatkan  relasi saya dengan Allah dalam doa liturgi, lebih khususnya di posisi manakah sebuah Misa Kudus, dimana merupakan sebuah partisipasi saya dalam sebuah Doa Umum sebagai Tubuh Kristus yaitu bagian dari Gereja ditempatkan dalam hati saya?

Dalam menjawab pertanyaan ini hal pertama yang mesti kita ingat bahwa semua doa adalah relasi yang hidup antara anak-anak Allah dengan Bapa-Nya di surga dimana semuanya merupakan hal yang baik yang tak ternilai, bersama Putra-Nya yang Tunggal bersama persatuan dengan Roh Kudus (KGK 2565). Jadi kehidupan sehari-hari dalam doa adalah kebiasaan kita untuk menyadari kehadiran Allah dalam kehidupan kita, seperti kita menyadari kehidupan sehari-hari kita, dimana kita menyadari kehadiran kerabat keluarga yang sangat kita cintai, atau bersama teman paling terdekat kita, karena dengan menyadari relasi kita dengan Allah terlebih dahulu dari relasi kita dengan sesama kita maka relasi kita dengan Allah tersebut memberi cahaya terhadap semua relasi kita dengan sesama. Keikatan atau persekutuan relasi kita dengan Tritunggal Maha Kudus inilah dapat mungkin terjadi karena melewati Pembabtisan yang kita terima, kita telah mau bekerja didalam Kristus, dan mulai bersatu bersama-Nya (bdk Rom 6:5)

Bahkan, hanya melewati Kristus kita dapat menjadi anak-anak Allah, dan hanya dalam persekutuan dalam Putra-Nya kita dalam memanggil Allah, "Abba" sama seperti Kristus memanggil Dia "Abba", karena didalam persekutuan dengan Kristuslah kita dapat mengetahui Allah adalah Bapa kita yang sejati (bdk. Mat 11:27). Karena dari itu doa Kristen adalah sebuah doa yang terus-menerus berpusat kepada Kristus, dan dalam berbagai cara yang berbeda, berbicara kepada-Nya, berada bersama-Nya dalam keheningan, mendengarkan-Nya, melakukan dan menderita bersama-Nya. Seorang Kristen dapat menemukan jati dirinya sendiri dalam Kristus, yang merupakan, "Anak yang Sulung" dimana "yang lebih utama dari segala yang diciptakan" (bdk Kol 1:15). Menyadari bersama-Nya, bersatu bersama-Nya, saya menyadari jati diri saya sendiri sebagai benar-benar putera dan puteri Allah yang melihat-Nya sebagai Bapa yang penuh dengan Rasa Cinta kepada anak-anak-Nya.

Tetapi kita jangan juga lupa: bersama dalam persekutuan dengan Gerejalah bahwa kita menemukan Kristus, kita dapat mengetahui Dia sebagai Persona yang hidup. Dia [Gereja] adalah "Tubuh-Nya". Persekutuan antara Kristus dan "Tubuh-Nya" ini dapat dimengerti dalam dasar Firman Kitab Suci dalam perumpamaan perkawinan, antara pria dan wanita: Dua menjadi satu Tubuh (bdk Kej 2:24, Ef 5:30, 1Kor 6:16). Persekutuan yang tidak dapat dipisahkan antara Kristus dan Gereja-Nya, melewati perikatan Kasih, tidak berarti memisahkan antara "Saya" dan "Kamu" tetapi merupakan sebuah kesatuan yang paling sempurna antara "Saya" dan "Kamu". Mencari identitas diri sendiri dalam Kristus berarti mencari persatuan bersama-Nya, tidak berarti menghapus jati diri saya sebagai "saya" tetapi mengangkat diri "saya" kepada martabat yang paling tinggi, yaitu sebagai anak-anak Allah dalam Kristus, yang merupakan: "Kisah Kasih antara Alah dan manusia dimana terdapat sebuah kisah yang sungguh nyata dimana persekutuan ini menyadari kita akan pengetahuan dan keberadaan, dimana keinginan kita dan keinginan Allah dipersatukan dalam ikatan ini" (Ensilik Deus Caritas Est, n. 17). Sebuah doa berarti menaikkan diri kita kepada Allah, dan apabila perlu secara bertahap merubah kita secara pasti dalam kehendak-Nya.