Benediktus XVI
Audensi Umum
Lapangan St. Peter
Rabu, 11 Mei 2011
Saudara/i Terkasih,
Hari ini saya ingin melanjutkan permenungan saya mengenai bagaimana cara berdoa dan bagaimana doa itu merupakan bagian dari agama dan kemanusiaan dan juga termasuk bagian dari sejarah kemanusiaan.
Kita hidup didalam dunia dengan terpampang jelas dengan berbagai sekularisme. Allah seakan-akan telah hilang dalam pandangan beberapa orang dan telah menjadi realita bahwa sebagian orang ini sudah tidak lagi peduli akan masalah ini. Tetapi pada saat yang bersamaan kita melihat bahwa telah timbul juga gerakan-gerakan beberapa orang untuk mencari kebutuhan mereka akan kehidupan beragama, kembali menggali bagaimana pentingnya Allah dalam kehidupan manusia, sebuah kebutuhan akan spiritualitas, sebuah pencarian yang melewati batas materialistik dari kehidupan manusia dengan tulus.
Kita hidup didalam dunia dengan terpampang jelas dengan berbagai sekularisme. Allah seakan-akan telah hilang dalam pandangan beberapa orang dan telah menjadi realita bahwa sebagian orang ini sudah tidak lagi peduli akan masalah ini. Tetapi pada saat yang bersamaan kita melihat bahwa telah timbul juga gerakan-gerakan beberapa orang untuk mencari kebutuhan mereka akan kehidupan beragama, kembali menggali bagaimana pentingnya Allah dalam kehidupan manusia, sebuah kebutuhan akan spiritualitas, sebuah pencarian yang melewati batas materialistik dari kehidupan manusia dengan tulus.
Kita melihat beberapa lembaran sejarah dimana mereka, mulai pada abad Pencerahan, memprediksi akan gagalnya dan hilangnya agama-agama yang mereka kira membatasi pikiran-pikiran akal budi manusia, dimana mereka ini mengira bahwa dengan menjauhkan manusia dari Iman, maka akal budi akan dibebaskan dari bayang-bayang dogma agama dan menghilangkan akan segala macam "kesakralan", dan memulihkan kemanusiaan kepada kebebasan, martabat, dan kemandirian manusia dari Allah. Pengalaman lain dari lembaran sejarah masa lalu, adalah tragedi dua Perang Dunia, dimana mengganggu perkembangan kemandirian akal budi, manusia seakan-akan dihilangkan perasaan mereka bahwa Allah itu tidak ada, lembaran-lembaran sejarah ini seakan menjanjikan sebuah tujuan yang sukses untuk menghilangkan Allah.


