Tampilkan postingan dengan label dokumen Gereja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dokumen Gereja. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Februari 2015

Audensi Umum Paus Benediktus XVI : Katekese Mengenai Doa Kristen bagian III: "Doa Abraham"

Benediktus XVI
 Audensi Umum 
Lapangan St. Peter
Rabu, 18 Mei 2011





Saudara/i Terkasih,
Dalam serial dua katakese saya, saya merenungkan kepada kalian mengenai doa yang merupakan fenomena universal dimana - walaupun memiliki bentuk yang berbeda-beda - hadir disetiap adat istiadat setiap jaman.

Hari ini saya ingin memulai berbicara tentang doa yang terkandung didalam Kitab Suci, yang dimana akan membimbing kita jauh kedalam tentang dialog mengenai Perjanjian antara Allah dan manusia, dimana selalu hidup dalam sejarah keselamatan dan dapat terus dihitung didalamnya, sehingga membahwa kita kepada Firman itu sendiri yaitu Yesus Kristus.

Cara ini akan merenungkan kita kepada beberapa poin yang penting dalam teks dan beberapa tokoh penting baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita akan mulai dengan Bapa Abraham, bapa dari segala umat yang percaya (bdk. Rom 4:11-12, 16-17), dia memberikan sebuah contoh doa yang merupakan doa bantuan kepada kota Sodom dan Gomorah.

Dan saya juga ingin menanyakan kepada kalian apa saja keuntungan yang akan didapat ketika kita melakukan perjalanan permenungan terhadap serial katekese ini ketika kita dituntun oleh Kitab Suci, dimana saya berharap keuntungan-keuntungan ini akan kalian bawa didalam rumah kalian, dan tentu saja saya berharap dalam minggu-minggu ini, kalian hening sejenak membaca Kitab Suci dan bermeditasi dan berdoa bersama-Nya, untuk mengetahui bagaimana takjubnya sejarah yang diukir antara hubungan manusia dan Allah yang terkandung didalam Kitab Suci, bagaimana Allah yang mau berkomunikasi dengan kita, manusia, dan bagaimana kita manusia menganggapi-Nya, dengan berdoa.

Rabu, 04 Februari 2015

Audensi Umum Paus Benediktus XVI : Katekese Mengenai Doa Kristen bagian II: "Doa Adalah Tanggapan Keinginan Manusia akan Allah"

Benediktus XVI
 Audensi Umum 
Lapangan St. Peter
Rabu, 11 Mei 2011



Saudara/i Terkasih, 
Hari ini saya ingin melanjutkan permenungan saya mengenai bagaimana cara berdoa dan bagaimana doa itu merupakan bagian dari agama dan kemanusiaan dan juga termasuk bagian dari sejarah kemanusiaan.

Kita hidup didalam dunia dengan terpampang jelas dengan berbagai sekularisme. Allah seakan-akan telah hilang dalam pandangan beberapa orang dan telah menjadi realita bahwa sebagian orang ini sudah tidak lagi peduli akan masalah ini. Tetapi pada saat yang bersamaan kita melihat bahwa telah timbul juga gerakan-gerakan beberapa orang untuk mencari kebutuhan mereka akan kehidupan beragama, kembali menggali bagaimana pentingnya Allah dalam kehidupan manusia, sebuah kebutuhan akan spiritualitas, sebuah pencarian yang melewati batas materialistik dari kehidupan manusia dengan tulus.

Kita melihat beberapa lembaran sejarah dimana mereka, mulai pada abad Pencerahan, memprediksi akan gagalnya dan hilangnya agama-agama yang mereka kira membatasi pikiran-pikiran akal budi manusia, dimana mereka ini mengira bahwa dengan menjauhkan manusia dari Iman, maka akal budi akan dibebaskan dari bayang-bayang dogma agama dan menghilangkan akan segala macam "kesakralan", dan memulihkan kemanusiaan kepada kebebasan, martabat, dan kemandirian manusia dari Allah. Pengalaman lain dari lembaran sejarah masa lalu, adalah tragedi dua Perang Dunia, dimana mengganggu perkembangan kemandirian akal budi, manusia seakan-akan dihilangkan perasaan mereka bahwa Allah itu tidak ada, lembaran-lembaran sejarah ini seakan menjanjikan sebuah tujuan yang sukses untuk menghilangkan Allah.

Audensi Umum Paus Benediktus XVI : Katekese Mengenai Doa Kristen bagian I: "Beberapa Contoh Doa Jaman Dahulu"

Benediktus XVI
 Audensi Umum
Lapangan Basilika St.Peter 
Rabu, 4 Mei 2011




Doa Orang Kristen

Saudara/i Terkasih,
Hari ini saya ingin memulai serial katekese baru. Setelah serial katekese mengenai Bapa-Bapa Gereja, Para Ahli Theologi dan perempuan hebat dari Abad Pertengahan, saya ingin memulai memilih sebuah topik yang mungkin menyenengkan hati kalian semua: yaitu tema mengenai doa, terlebih khususnya, Doa Kristen, yang dimana, Yesus ajarkan dan dimana Gereja sampai saat ini meneruskan-Nya. Adalah sebuah fakta bahwa didalam Yesus, manusia dapat bertemu dengan Allah secara mendalam dan intim seperti relasi antara Bapa dan Anak. Bersama dengan murid-murid pertama-Nya, mari kita dengan rendah hati dan percaya kepada-Nya sambil berseru: "Tuhan, ajarilah kami cara berdoa" (bdk Luk 11:1).

Dalam serial katakese ini, dengan bantuan Kitab Suci, tradisi agung dari para Bapa Gereja, Para Pengajar mengenai spiritual dan Liturgi, mari kita belajar untuk hidup antara relasi kita dengan Tuhan, dengan lebih sering seperti layaknya kita berada didalam "sekolah doa"

Kita semua mengerti, bahwa, doa itu didapatkan secara bebas. Dibutuhkan sebuah cara bagaimana berdoa dengan benar, seperti sebuah seni yang selalu diperbaharui, bahkan mereka yang telah ahli dalam kehidupan spiritual selalu merasakan sebuah kecontohan dari Yesus, bagaimana cara berdoa yang otentik dan sebenarnya dari-Nya. Kita menerima cara pertama dari contoh Tuhan sendiri. Didalam Injil menjelaskan kepada kita bagaimana Yesus dalam keintiman-Nya dan kedekatan-Nya melakukan pembicaraan dengan Bapa: ini secara jelas menggambarkan sebuah persekutuan dimana Dia yang diutus kedunia bukan kehendak-Nya seorang saja tetapi melakukan kehendak Bapa-Nya yang mengutus-Nya untuk menyelamatkan manusia.

Pada serial Katakese pertama ini, sebagai pembukaan saya ingin memberikan beberapa contoh doa dari budaya-budaya jaman kuno dan lama, untuk memberikan sebuah contoh kepada kalian semua bahwa dari dahulu dan disemua tempat, manusia selalu melakukan komunikasi kepada Allah. 

Selasa, 03 Februari 2015

Audensi Umum Paus Benediktus XVI : Katekese Dalam Liturgi Kudus bagian II

Benediktus XVI
 Audensi Umum 
Rabu, 3 Oktober 2012


Saudara/i Terkasih,
Minggu lalu dalam minggu Katekese, Saya memulai mengajari tentang sesuatu dari banyak sumber dalam kehidupan Doa orang Kristen, yaitu: Liturgi Ilahi, dimana, seperti yang dikatakan dalam Katekismus Gereja Katolik merupakan sebuah doa yang "Berpartisipasi dalam Doa Kristus yang ditujukan kepada Bapa dalam persatuan dalam Roh Kudus. Karena dalam Liturgi, adalah sumber dan tujuan dari semua Doa Kristen " (bdk. 1073). Sekarang saya mau kalian untuk bertanya dalam diri kalian masing-masing: dalam kehidupan saya sehari-hari, apakah saya menyediakan waktu yang cukup untuk sebuah doa, dan diatas semuanya itu dimana saya tempatkan  relasi saya dengan Allah dalam doa liturgi, lebih khususnya di posisi manakah sebuah Misa Kudus, dimana merupakan sebuah partisipasi saya dalam sebuah Doa Umum sebagai Tubuh Kristus yaitu bagian dari Gereja ditempatkan dalam hati saya?

Dalam menjawab pertanyaan ini hal pertama yang mesti kita ingat bahwa semua doa adalah relasi yang hidup antara anak-anak Allah dengan Bapa-Nya di surga dimana semuanya merupakan hal yang baik yang tak ternilai, bersama Putra-Nya yang Tunggal bersama persatuan dengan Roh Kudus (KGK 2565). Jadi kehidupan sehari-hari dalam doa adalah kebiasaan kita untuk menyadari kehadiran Allah dalam kehidupan kita, seperti kita menyadari kehidupan sehari-hari kita, dimana kita menyadari kehadiran kerabat keluarga yang sangat kita cintai, atau bersama teman paling terdekat kita, karena dengan menyadari relasi kita dengan Allah terlebih dahulu dari relasi kita dengan sesama kita maka relasi kita dengan Allah tersebut memberi cahaya terhadap semua relasi kita dengan sesama. Keikatan atau persekutuan relasi kita dengan Tritunggal Maha Kudus inilah dapat mungkin terjadi karena melewati Pembabtisan yang kita terima, kita telah mau bekerja didalam Kristus, dan mulai bersatu bersama-Nya (bdk Rom 6:5)

Bahkan, hanya melewati Kristus kita dapat menjadi anak-anak Allah, dan hanya dalam persekutuan dalam Putra-Nya kita dalam memanggil Allah, "Abba" sama seperti Kristus memanggil Dia "Abba", karena didalam persekutuan dengan Kristuslah kita dapat mengetahui Allah adalah Bapa kita yang sejati (bdk. Mat 11:27). Karena dari itu doa Kristen adalah sebuah doa yang terus-menerus berpusat kepada Kristus, dan dalam berbagai cara yang berbeda, berbicara kepada-Nya, berada bersama-Nya dalam keheningan, mendengarkan-Nya, melakukan dan menderita bersama-Nya. Seorang Kristen dapat menemukan jati dirinya sendiri dalam Kristus, yang merupakan, "Anak yang Sulung" dimana "yang lebih utama dari segala yang diciptakan" (bdk Kol 1:15). Menyadari bersama-Nya, bersatu bersama-Nya, saya menyadari jati diri saya sendiri sebagai benar-benar putera dan puteri Allah yang melihat-Nya sebagai Bapa yang penuh dengan Rasa Cinta kepada anak-anak-Nya.

Tetapi kita jangan juga lupa: bersama dalam persekutuan dengan Gerejalah bahwa kita menemukan Kristus, kita dapat mengetahui Dia sebagai Persona yang hidup. Dia [Gereja] adalah "Tubuh-Nya". Persekutuan antara Kristus dan "Tubuh-Nya" ini dapat dimengerti dalam dasar Firman Kitab Suci dalam perumpamaan perkawinan, antara pria dan wanita: Dua menjadi satu Tubuh (bdk Kej 2:24, Ef 5:30, 1Kor 6:16). Persekutuan yang tidak dapat dipisahkan antara Kristus dan Gereja-Nya, melewati perikatan Kasih, tidak berarti memisahkan antara "Saya" dan "Kamu" tetapi merupakan sebuah kesatuan yang paling sempurna antara "Saya" dan "Kamu". Mencari identitas diri sendiri dalam Kristus berarti mencari persatuan bersama-Nya, tidak berarti menghapus jati diri saya sebagai "saya" tetapi mengangkat diri "saya" kepada martabat yang paling tinggi, yaitu sebagai anak-anak Allah dalam Kristus, yang merupakan: "Kisah Kasih antara Alah dan manusia dimana terdapat sebuah kisah yang sungguh nyata dimana persekutuan ini menyadari kita akan pengetahuan dan keberadaan, dimana keinginan kita dan keinginan Allah dipersatukan dalam ikatan ini" (Ensilik Deus Caritas Est, n. 17). Sebuah doa berarti menaikkan diri kita kepada Allah, dan apabila perlu secara bertahap merubah kita secara pasti dalam kehendak-Nya.

Kamis, 18 Oktober 2012

Audensi Umum Paus Benediktus XVI : Katekese Dalam Liturgi Kudus bagian I

Benediktus XVI
Audensi Umum
Rabu, 26 September 2012


Saudara dan Saudari terkasih dalam Kristus,
Dalam bulan-bulan terakhir ini kita telah melakukan perjalanan dalam terang firman Allah sehingga belajar bagaimana cara berdoa yang benar dan semakin otentik, dengan melihat beberapa tokoh Perjanjian Lama yang penting, di Mazmur, di Surat St Paulus dan pada Kitab Wahyu, tetapi , terutama, pada pengalaman unik dan mendasar dari Yesus dalam hubungannya dengan Bapa-Nya di Surga. Bahkan, hanya dalam Kristus seseorang bisa dipersatukan dengan Allah dengan kedalaman dan keintiman layaknya seorang anak dalam hubungannya dengan seorang ayah yang mencintainya, hanya dalam Kristus kita dapat menyapa Tuhan dalam semua kebenaran, menyebut-Nya dengan kata sayang, "Abba! Bapa ".! Seperti Rasul, kita juga dalam beberapa minggu terakhir dan beberapa hari ini mengulang permintaan yang sama kepada Yesus: "Tuhan, ajarlah kami berdoa" (Luk 11:1).

Lebih lanjutnya lagi, belajar untuk hidup lebih intens antara hubungan pribadi kita dengan Tuhan, kita telah belajar untuk memohon terang Roh Kudus, karunia pertama yang diberikan oleh Dia yang telah Bangkit dari alam maut kepada orang percaya, karena Dia yang "membantu kita dalam kelemahan kita, karena kita tidak tahu bagaimana sebenarnya cara berdoa yang benar "(Rom 8:26), sebagaimana St Paulus katakan, dan kita tahu betapa benarnya beliau dalam suratnya tersebut.

Senin, 17 September 2012

Terhadap Kekerasan dan Konflik: Pesan Angelus Paus Benediktus XVI 16 September 2012

Terhadap Kekerasan dan Konflik: Pesan Angelus Paus Benediktus XVI 16 September 2012 pada kunjungan apostolik di Beirut, Lebanon

"Kenapa begitu banyak yang mati? kenapa begitu horrornya?"

Saudara dan Saudari terkasih,
Mari kita sekarang beralih ke Maria, Bunda Kita dari Lebanon, dimana kepadanya baik umat Kristen dan Muslim berkumpul mengeluh kesah. Mari kita memintanya untuk berdoa bersama dengan Putra Ilahinya untuk anda sekalian dan, lebih khusus, bagi rakyat Suriah dan negara-negara tetangga, memohon karunia kedamaian. Anda tahu semua terlalu banyak tragedi konflik dan kekerasan yang menghasilkan begitu banyak penderitaan. Sayangnya, hiruk-pikuk senjata terus memperdengarkan suaranya, bersama dengan teriakan janda yang kehilangan suaminya dan yatim piatu yang kehilangan orangtuanya karena konflik ini. Kekerasan dan kebencian menyerang kehidupan masyarakat, dan korban pertama adalah perempuan dan anak-anak. Mengapa begitu banyak horor? Mengapa begitu banyak orang mati? Saya menghimbau masyarakat internasional! Saya juga menghimbau kepada negara-negara Arab yang merupakan saudara mereka juga dimana mungkin mengusulkan solusi yang terbaik menghormati martabat, hak dan agama dari setiap pribadi manusia di Suriah! Mereka yang ingin membangun perdamaian harus berhenti untuk melakukan suatu kejahatan lain yang seharusnya tidak boleh terjadi. Hal ini memang tidak mudah dimana untuk mengasihi dan mencintai sesama, namun ini diperlukan jika perdamaian ingin dibangun, jika ingin menciptakan persaudaraan (bdk. 1 Yoh 2:10-11; 1 Pet 3:08 - 12).

Semoga Allah memberikan ke negara Anda, ke Suriah dan ke Timur Tengah karunia hati damai, pembungkaman senjata dan penghentian kekerasan secara total! Semoga orang-orang memahami bahwa mereka semua adalah saudara!


link: klik disini

ut habeatis fidem in ecclessia Catholica

Kamis, 02 Agustus 2012

Surat Ensilik Fides et Ratio (Iman dan Akal Budi) oleh Yohanes Paulus II bagian I

Dari Penulis Blog: penulis menerjemahkan secara bebas dokumen terpenting antara Iman dan Akal Budi bagi Iman Katolik yang ditulis oleh Beato Yohanes Paulus II, dokumen ini sangat membantu pembaca untuk lebih mengenal lebih dalam akan ajaran Katolik yang begitu indah, penulis membagi menjadi 7 Bagian dari surat Ensilik ini, karena keterbatasan waktu dan karena panjangnya dokumen ini, sehingga mungkin akan membuat pembaca akan lebih cepat bosan membaca sekaligus, selain itu karena dokumen ini akan sulit dibaca dan dimengerti sekaligus. Dan sebaiknya pembaca seharusnya tidak boleh mengambil keputusan atau sebuah kesimpulan ketika hanya membaca sebagian dari ensilik ini, karena ketika itu dilakukan, maka hanya akan membuat pembaca tidak mengerti maksud dan inti dari ensilik ini, sehingga dapat mereduksi ajaran Katolik yang terkandung didalamnya, bukan sebaliknya yang ingin disampaikan oleh Ensilik ini dimana ingin menyampaikan ajaran Katolik secara kepenuhan. Terjemahan bisa para pembaca melihat di link resmi Tahta Suci di vatican.va dalam Bahasa Inggris : Encylical Fides et Ratio.


Jumat, 27 April 2012

Surat Memperingati 100 tahun Surat Motu Proprio Tra le Sollecitudini (Mengenai Musik Suci) oleh Supreme Pontiff Yohanes Paulus II

1. Termotivasi oleh keinginan yang kuat "untuk mempertahankan dan mempromosikan sebuah kesopanan dari Rumah Tuhan", Pendahulu saya St Pius X mengajarkan Motu Proprio Tra le Sollecitudini pada 100tahun lalu. Tujuannya adalah untuk memperbaharui musik suci dalam liturgi. Dengan itu ia bermaksud untuk menawarkan panduan praktis dalam Gereja mengenai sektor penting dari liturgi, menghadirkannya, seakan-akan, sebagai "kode wilayah dari musik suci" [1]. Tindakan ini juga merupakan bagian dari program Pontifikat yang ia simpulkan dalam motto Potifikatnya: "Instaurare omnia in Cristo" "Seluruh Ketetapan dalam Kristus".



Sabtu, 07 April 2012

Homili Misa Krisma (Rabu Kudus) 2012 oleh Paus Benediktus XVI

 
Saudara-saudari yang terkasih,

Pada Misa Kudus ini pikiran kita kembali ke saat-saat ketika, melalui doa dan penumpangan tangan, uskup membuat kita berbagi dalam imamat Yesus Kristus, sehingga kita mungkin "dikuduskan dalam kebenaran" (Yoh 17:19) , sebagaimana Yesus meminta kepada Bapa bagi kita dalam kuasa doa-Nya sebagai Imam Tertinggi. Dia sendiri adalah kebenaran. Dia telah menguduskan kita, artinya, menyerahkan kita kepada Allah untuk selama-lamanya, sehingga kita dapat melayani baik itu pria dan wanita sebuah pelayanan yang berasal dari Allah dan membawa kepada-Nya. Tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah apakah konsekrasi (pengudusan) kita telah mencakup kenyataan dalam kehidupan sehari-hari kita - apakah kita bekerja sebagaimana mestinya orang-orang Allah yang merupakan pengikut Kristus? Pertanyaan ini membuat kita menempatkan Tuhan di depan kita dan kita di hadapan-Nya. "Apakah anda telah memutuskan untuk menjadi lebih dekat dengan Tuhan kita Yesus Kristus dan lebih erat serupa dengan Dia, menyangkal diri dan meneguhkan janji-janji tentang tugas suci kamu kepada Gereja Kristus yang dimana, kamu diminta untuk mencintai Gereja-Nya, dengan kerelaan dan sukacita anda untuk menghidupi kehidupan Imamat sehari-hari? "Setelah homili ini, saya akan membahas pertanyaan ini kepada anda masing-masing di sini dan tentu saja juga kepada diri saya sendiri. Dua hal terutama, di atas semua, apa yang diminta dari kita yaitu: ada sebuah kebutuhan untuk ikatan terdalam, keselarasan kepada Kristus, dan pada saat yang sama harus ada sebuah tindakan yang harus melampaui diri kita sendiri, sikap penolakan dari apa yang hanya kita miliki, dari banyaknya hal yang dapat digembar-gemborkan dari diri kita sendiri untuk pemenuhan rasa puas untuk diri kita sendiri. Padahal Yang kita butuhkan dalam pelayanan Imamat ini, yang saya butuhkan, untuk tidak mengklaim hidup saya sebagai milik saya sendiri, tetapi untuk menempatkannya di kepada orang lain - yaitu Kristus. Saya seharusnya tidak bertanya apa yang saya dapat miliki ketika saya berbuat sesuatu, tetapi apa yang bisa saya berikan untuk Dia dan juga bagi orang lain. Atau dengan kata yang lebih khusus, peselarasan kepada Kristus, yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, yang tidak menerima, melainkan memberi - tetapi bentuk apa yang dibutuhkan dalam situasi yang sering terjadi secara dramatis kepada Gereja saat ini? Baru-baru ini sekelompok imam dari negara Eropa mengeluarkan panggilan untuk ketidaktaatan, dan pada saat yang sama bentuk-bentuk nyata dari ketidak taatan ini terjadi secara frontal dan nyata, bahkan sampai kepada titik dimana tidak mempedulikan keputusan definitif dari Magisterium Gereja, seperti pertanyaan tentang thabisan Imamat perempuan, yang dimana Beato Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara defenitif dan tidak dapat ditarik kembali bahwa Gereja tidak menerima otoritas ini dari Tuhan. Apakah ketidaktaatan adalah jalan pembaharuan bagi Gereja? Kita ingin percaya bahwa penulis-penulis ini terpanggil karena termotivasi oleh keprihatinan mereka kepada Gereja, bahwa mereka yakin lambatnya sikap Gereja harus diatasi dengan langkah-langkah yang cepat dan drastis, untuk membuka jalur baru dan untuk membawa Gereja ke jaman saat ini dimana menerima apa yang lumrah dilakukan dijaman sekarang. Tapi apakah ketidaktaatan benar-benar cara untuk melakukan ini? Apakah kita merasakan sebuah keselarasan kepada Kristus yang merupakan prasyarat untuk semua pembaruan-pembaruan yang benar, atau apakah kita hanya merasakan sebuah dorongan putus asa untuk melakukan sesuatu untuk mengubah Gereja sesuai dengan hasrat, preferensi dan ide dari diri kita sendiri?





Selasa, 03 April 2012

Inter Insigniores oleh CDF dan petikan dokumen Ordinatio Sacerdotalis


Deklarasi Pada Pertanyaan Mengenai Wanita Untuk Tahbisan Imamat

Inter Insigniores

15 Oktober 1976

Konggregasi Suci untuk Ajaran Iman

Pengantar

Peran Wanita Dalam Masyarakat Modern Dan Gereja

Di antara karakteristik yang menandai zaman kita, Paus Yohanes XXIII menunjukkan, dalam ensikliknya "In Pacem Terris" 11 April 1963 mengatakan, "bagian yang perempuan sekarang ambil dalam kehidupan publik... Ini adalah perkembangan yang barangkali tumbuh diantara bangsa-bangsa Kristen, bahkan terjadi secara luas, barangkali lebih lambat, diantara bangsa-bangsa yang adalah merisi tradisi yang berbeda dan dijiwai dengan budaya yang berbeda "[1]. Sepanjang hal yang sama, Konsili Vatikan II, menyebutkan ini dalam Konstitusi Pastoral" Gaudium et Spes " sebagai bentuk-bentuk diskriminasi yang menyentuh atas hak-hak dasar manusia yang harus diatasi dan dihilangkan karena bertentangan dengan rencana Allah, memberikan tempat pertama pada diskriminasi berdasarkan gender sex [2]. Sebuah kesetaraan yang dihasilkan akan dapat mengamankan pembangunan dari dunia yang dimana tidak datar dan seragam tetapi harmonis dan bersatu, jika laki-laki dan perempuan berkontribusi untuk itu sumber daya mereka sendiri dan dinamisme, sebagai Paus Paulus VI baru-baru saja katakan[3].

Dalam kehidupan Gereja sendiri, karena sejarah menunjukkan kepada kita, perempuan telah memainkan peran yang menentukan dan tugas dicapai merupakan nilai yang luar biasa. Salah satunya mungkin kita dapat memikirkan pendiri-pendiri keluarga religius besar(ordo), seperti Santa Clara dan Santa Teresa dari Avila. Yang terakhir lainnya, apalagi, dan Santa Catherine dari Siena, telah meninggalkan tulisan-tulisan yang begitu kaya dalam doktrin spiritual yang dimana Paus Paulus VI telah memasukkan beliau ini diantara Doktor Gereja. Juga tidak kita melupakan sejumlah besar perempuan yang telah menghabiskan dirinya kepada Tuhan untuk menjalankan amal atau untuk misi, dan menjadi istri Kristen yang memiliki pengaruh besar pada keluarga mereka, terutama untuk menyampaikan iman untuk anak-anak mereka.

Tetapi pada jaman kita telah timbulnya sebuah peningkatan tuntutan: "Karena dalam zaman kita wanita memiliki ruang yang lebih aktif dalam kehidupan seluruh masyarakat, sangat penting bahwa mereka berpartisipasi lebih luas juga di berbagai sektor kerasulan Gereja" [4]. Maka dari tuntutan ini Konsili Vatikan II telah menggerakkan seluruh proses perubahan sekarang terjadi: berbagai pengalaman ini tentu saja perlu datang dengan sikap yang lebih dewasa. Tapi seperti Paus Paulus VI juga lakukan, [5] jumlah yang sangat besar komunitas Kristen yang sudah mendapatkan manfaat dari komitmen dari Tahta Suci Apostolik kepada wanita. Beberapa perempuan dipanggil untuk mengambil bagian dalam konsili dimana mengatur sebuah refleksi pastoral, di tingkat keuskupan atau paroki, dan Takhta Apostolik telah membawa perempuan ke dalam berbagai kerja tubuh Gereja.

Untuk beberapa tahun sekarang ini berbagai komunitas Kristen Reformasi yang berasal dari abad keenam belas atau pecahan mereka kemudian telah mengakui perempuan ke dalam tugas pastoral bergandengan sejajar dengan laki-laki. Inisiatif ini telah menyebabkan berbagai petisi(permintaan) dan tulisan oleh anggota komunitas-komunitas tersebut dan kelompok serupa, sehingga membuat hal ini diterima secara umum; tetapi hal itu juga menyebabkan reaksi yang berlawanan. Oleh karena itu ini merupakan masalah ekumenis, dan Gereja Katolik harus membuat diri-Nya berpikir seperti diatas, semua hal ini lebih karena di berbagai sektor pendapat dari pertanyaan ini telah ditanyakan apakah Dia(Gereja Katolik) juga tidak dapat memodifikasi disiplin dan mengakui perempuan untuk ditahbiskan menjadi imam. Sejumlah teolog Katolik bahkan telah mengajukan pertanyaan ini kepada publik, membangkitkan studi tidak hanya dalam lingkup sejarah tafsir, patrology(mengenai Bapa Gereja/Patristik) dan Gereja, tetapi juga di bidang sejarah dan adat istiadat institusi, sosiologi dan psikologi. Berbagai argumen mampu menjelaskan masalah ini penting telah diserahkan kepada pemeriksaan kritis. Karena kita berhadapan dengan teologi klasik perdebatan yang hampir menyentuh segalanya, argumentasi saat ini yang dijalankan sangat resiko mengabaikan unsur penting.

Untuk alasan ini, dalam pelaksanaan mandat yang diterima dari Bapa Suci dan menggemakan deklarasi yang beliau sendiri nyatakan dalam suratnya tertanggal 30 November 1975,[6] Kongregasi untuk Ajaran Iman sebagai hakim dalam masalah ini perlu untuk mengingat bahwa Gereja, dalam contoh kesetiaan kepada Tuhan, tidak menganggap dirinya berwenang untuk mengakui wanita untuk ditahbiskan menjadi imam. Kongregasi Suci memandang secara tepat di titik ini untuk menjelaskan dimana posisi Gereja berdiri. Ini merupakan posisi yang mungkin akan menimbulkan rasa sakit bagi orang lain tetapi akan menjadi nilai positif yang akan menjadi jelas dalam jangka panjang, karena dapat membantu dalam memperdalam pemahaman tentang peran masing-masing laki-laki dan perempuan.

Rabu, 04 Januari 2012

Ensilik Beato Paus Pius IX : Ineffabilis Deus (Allah Tidak dapat Dilukiskan)

dari saya: ensilik ini membahas dan menyatakan secara defenitif sebuah Dogma Maria dikandung bebas dari Noda Dosa secara Ex-Cathedra yang dimana harus diimani secara penuh oleh orang Katolik, mungkin dokumen ini akan panjang, susah, dan tidak dimengerti apabila hanya sekali dibaca, tetapi saya harap dokumen terjemahan ini dari orang-orang Katolik Indonesia agar semakin menjaga dan menghormatinya tanpa mengurangi satu arti dari dokumen yang menyatakan secara Ex-Cathedra sebuah dogma Katolik (pernyataan secara Ex-Cathedra dengan cara yang Agung sebuah dogma dalam dokumen ini akan dibold dan digaris miring), "Jagalah Gereja yang saya cintai dengan baik dan penuh kekudusan"-Beato Pius IX. Ut Habeatis Fidem In Eclessia Catholica




Maria Dikandung Tanpa Noda

Ineffabilis Deus



Konstitusi Apostolik yang dikeluarkan oleh Paus Pius IX pada tanggal 8 Desember 1854.


Allah tak terlukiskan - yang adalah rahmat dan kebenaran, dan kehendak-Nya tidak terkira, dan yang kebijaksanaan-Nya "mencakup ujung ke ujung, dan memerintah dengan sangat manis" - yang dapat dilihat dan dirasakan tak terhingga dalam setiap kemalangan yang menyedihkan dari seluruh umat manusia yang disebabkan oleh dosa Adam, ditetapkan, oleh sebuah rencana yang tersembunyi selama berabad-abad, untuk menyelesaikan pekerjaan pertama dari kebaikan-Nya dengan sebuah misteri namun lebih menakjubkan lagi secara luhur melalui Inkarnasi-Nya Firman Allah. Dalam hal ini Dia bermaksud agar setiap orang, dalam hal ini telah bertentangan dengan rencana Kerahiman Ilahi yang telah dipimpin ke dalam sebuah dosa oleh kejahatan tipu daya setan, tidak binasa, dan agar apa yang telah hilang dalam Adam manusia pertama akan dimuliakan dan dipulihkan dalam Adam Baru. Dari awal, dan sebelum segala jaman dimulai, Bapa yang kekal telah menentukan dan mempersiapkan seorang Ibu dari Putera Allah dan dari dalam rahim-Nya Putera Allah akan dikandung dan menjadi inkarnasi manusia, dalam kepenuhan waktu yang penuh berkat, Dia akan dilahirkan ke dalam dunia. Di atas semua makhluk Tuhan kepada Marialah dan hanya kepada Marialah Bapa hanya memandang dan menyenangkan hati Allah. Oleh karena itu, Maria jauh di atas semua malaikat dan semua orang kudus sehingga secara berlimpah Allah memberkati dia dengan segala karunia surgawi mengalir dari harta keilahian-Nya bahwa ibu ini, benar-benar bebas dari segala noda dosa, semua yang adil dan sempurna, terpenuhinya segala ketidak bersalahan yang suci dan penuh kekudusan, bagi seseorang yang percaya dan berada didalam Allah, hal ini dapat di bayangkan sesuatu hal yang paling besar dan tak terhingga, dan yang tidak percaya dan berada di luar Allah, pemikiran ini tidak dapat dimengerti oleh mereka.